Follow Us @eblogid

Wednesday, July 18, 2018

Mengelola Sampah Organik Rumah Tangga

Beberapa tahun yang lalu saat melintas Pasar Ciroyom tercium bau busuk yang sangat menyengat dari sampah pasar yang mayoritas merupakan sisa sayuran dan buah. Sepanjang lorong pasar berumpuk sampah yang sudah beberapa hari tidak diangkut.

Berdasarkan pengalaman tersebut, jadi berfikir tentang kebiasaan membuang sembarangan sampah. Namun ternyata bukan hanya kebiasaan membuang sampah sembarangan yang menjadi masalah, tetapi penempatan TPS yang dekat pasar menjadi sumber masalah sampah yang timbulkan bau tidak sedap, pemandangan kotor dan timbulkan masalah kesehatan.

Pengalaman diatas, juga himbauan pemkot Kota Bandung untuk membuat lubang biofori yang diisi sampah organik, mendorong saya untuk mengelola sampah organik secara mandiri.  Kebetulan di depan  tempat tinggal ada halaman tanah terbuka, maka sejak saat itu mulai membiasakan diri untuk mengubur sampah organik.

Namun diawal membiasakan kebiasaan ini tidak begitu lancar, sampah yang dipendam tanah tersebut  "diserbu" tikus hingga terbuka berceceran dan mengeluarkan bau tidak sedap. Belajar dari pengalaman tersebut, pengelolaan sampah "disempurnakan"; lubang galian untuk sampah organik tersebut diperdalam lalu ditutup material misalnya bata, papan atau seng.

Jika sudah terbiasa, mengelola sampah organik rumah tangga sangat mudah dan tidak memberatkan bahkan menyenangkan. Beberapa poin berikut pengalaman saya pribadi dalam mengelola sampah organik rumah tangga :

1. Jenis Sampah : sampah yang mudah membusuk seperti sisa sayuran, daun, sisa buah, sisa makanan, tisu dan bahan sejenisnya yang mudah membusuk.
2. Wadah Penampungan
- Wadah penampungan sebaiknya tidak terlalu besar untuk ukuran rumah tangga cukup untuk 3-4 harian. Tampungan yang saya gunakan menggunakan bekas ember es ukuran 8 liter.
-  Penampungan tidak bocor dan berpenutup. Tujuanya supaya tidak timbulkan bau dan mengeluarkan lelehan air sampah organik.
- Dilapisi keresek plastik, jadi sampah organik tidak langsung menempel dengan tampungan sehingga mudah saat diangkat sampahnya dan mudah dibersihkan wadahnya. 

- Wadah disimpan ditempat kering dan aman.

3. Tempat pembuangan (penimbunan sampah organik):
- Sebaiknya tidak terlalu dekat dengan sumber air (air sumur).  
- Buat galian sekitar 50 - 60 cm dengan diameter sekitar 40 - 50 cm.
- Buat beberapa lubang galian, tujuanya jika satu lubang galian penuh  maka sampah ditimbun di lubang yang lainya.
- Sampah organik memerlukan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan untuk terurai sempurna, maka untuk dapat diisi kembali pada lubang yang sudah terisi memerlukan waktu beberapa minggu.
- Setelah ditimbun dengan tanah, sebaiknya ditutup dengan seng atau papan untuk mencegah timbunan tersebut dicakar atau digali binatang seperti tikus.

Semoga tips sederhana mengelola sampah organik rumah tangga ini bisa bermanfaat, penjelasan yang ditulis pada tulisan ini akan diperbaharui jika ada yang terlewat atau kurang dari tulisan ini.

No comments:

Post a Comment

Mengelola Sampah Organik Rumah Tangga

Beberapa tahun yang lalu saat melintas Pasar Ciroyom tercium bau busuk yang sangat menyengat dari sampah pasar yang mayoritas merupakan sisa...